Jangan menganggap sepele terhadap
setiap kalimat yang anda lontarkan, bahkan untuk kalimat yang anda pikirkan
sekalipun. Pentingnya Kalimat Positif Untuk Pikiran Anda, akan memberikan
sedikit gambaran bagaimana kerja pikiran terhadap perkataan yang diterimanya
untuk memberikan motivasi kepada kita agar selalu berfikir positif.
Berhati-hatilah dengan pikiran
anda. Berita baiknya, bahwa manusia adalah satu-satunya mahluk di dunia ini
yang memiliki kemampuan berpikir mengenai proses berpikir. Istilah teknisnya
adalah metakognisi. Berita buruknya adalah bahwa sangat banyak orang yang tidak
sadar, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa
mereka sebenarnya memiliki kemampuan ini. Dan oleh sebab itu mereka tidak
pernah sadar bahwa seumur hidup mereka telah menjadi budak atau hamba dari
pikiran mereka sendiri.
Apapun yang terjadi di dalam
hidup kita merupakan realisasi dari pikiran kita yang dominan. Semakin kita
memikirkan hal yang tidak kita inginkan, maka kita semakin cenderung
mendapatkannya. Ada seorang remaja putri, yang tidak suka dengan tingkah laku
ibunya dan berkata, "Nanti, kalau saya dewasa, saya tidak akan jadi
seperti ibu saya." Apa yang terjadi saat ia dewasa? Ia menjadi persis
seperti ibunya. Mengapa? Karena semakin ia pikirkan bahwa ia tidak mau menjadi
seperti ibunya, maka pikiran ini menjadi semakin dominan, semakin menguasai
dirinya, dan dengan demikian mengarahkan ia untuk menjadi seperti ibunya.
Demikian juga orang gagal, yang
pencapaian prestasi hidupnya rendah. Coba anda tanyakan pada mereka, "Apa
yang anda ingin capai dalam hidup?" Mereka akan selalu berkata, "Saya
ingin agar hidup saya tidak kekurangan, tidak miskin, tidak susah, tidak
menderita, tidak ini...., tidak itu....." Yang mereka katakan selalu apa
yang tidak mereka ingin terjadi pada diri mereka. Namun yang tidak mereka
sadari adalah semakin mereka fokus untuk menghidari apa yang tidak mereka
inginkan maka pikiran mereka akan semakin membuat hal itu menjadi kenyataan.
Sebaliknya kalau orang sukses
ditanya, "Apa yang anda ingin capai dalam hidup?" maka mereka pasti
akan menjawab, "Saya ingin menjadi pengusaha sukses, saya ingin membantu
orang yang tidak mampu dengan kekayaan saya, saya ingin mendirikan panti
asuhan, saya ingin menyekolahkan anak ke luar negeri, saya ingin......., saya
ingin........" Semua jawaban itu selalu yang positip. Anda bisa lihat
bedanya sekarang?
Anda mungkin akan bertanya,
"Mengapa terjadi perbedaan hasil antara orang gagal dan orang sukses,
padahal mereka memikirkan tujuan yang sama?" Mereka memang terkesan
memikirkan hal yang sama, padahal tidak sama. Bukankah tidak mau hidup miskin
sama dengan hidup dalam kelimpahan? Bukankah hidup tidak menderita sama dengan
hidup senang atau bahagia? Secara bahasa, apa yang mereka nyatakan memang
artinya sama. Tapi secara kerja pikiran, kedua pernyataan itu bertolak
belakang. Lho, koq bisa?
Sekarang saya ingin bermain
dengan pikiran anda sejenak. Coba anda lakukan hal berikut ini. Saya ingin anda
untuk tidak memikirkan seekor gajah warna merah muda. Sekali lagi, saya minta
anda tidak memikirkan gajah warna merah muda. OK! Berhenti sejenak. Lakukan
eksperimen kecil ini. Setelah itu baru anda boleh meneruskan membaca.
Bila anda melakukan dengan benar
apa yang saya minta maka pikiran anda malah memikirkan seekor gajar warna merah
muda. Mengapa bisa terjadi demikian? Bukankah perintahnya tadi adalah anda
diminta tidak memikirkan gajah merah muda?
Inilah perbedaan kerja bahasa dan
kerja pikiran. Secara struktur kalimat, instruksi yang saya berikan sudah
benar. Namun tidak demikian bila instruksi ini mau dilaksanakan oleh pikiran.
Bahasa mengenal negasi. Pikiran tidak. Kalimat "tidak memikirkan"
secara kaidah bahasa memang berarti " tidak boleh memikirkan atau jangan
memikirkan". Namun di pikiran, untuk bisa menegasi suatu pernyataan maka
yang terjadi adalah harus terlebih dahulu muncul "sesuatu" untuk
kemudian dinegasi.
Dalam contoh yang saya berikan,
untuk bisa "tidak memikirkan gajah merah muda", maka yang terjadi di
pikiran adalah:
1. pikiran harus memunculkan
gambar gajah warna merah muda
2. baru setelah itu pikiran akan
menegasi gajah merah muda
Namun, begitu gambar gajah merah
muda telah muncul di pikiran maka efek negasi tidak berlaku. Artinya, gambar
gajah merah muda itu akan tetap berada di dalam pikiran. Semakin dominan
pikiran itu maka semakin kuat pengaruhnya pada diri seseorang.
Hal ini sama efeknya dengan
orangtua ketika memberi motivasi kepada anaknya yang malas belajar, dengan
kalimat, "Nak, jangan malas. Kalau malas kamu bodoh". Apa yang
terjadi? Anaknya justru tambah malas dan tambah bodoh. Demikian juga saat orangtua
mendorong anak untuk rajin bangun pagi dengan, "Kalau bangun jangan
kesiangan, nanti bisa telat masuk sekolah." Apa yang terjadi? Anaknya
tetap bangun kesiangan dan selalu telat sekolah. Mengapa bisa demikian?
Komunikasi mengandung tiga hal.
Pertama adalah ide, kedua adalah gambaran mental, dan yang ketiga adalah emosi.
Saat orangtua berkata jangan kesiangan, maka ini adalah ide. Selanjutnya dalam
pikiran akan muncul gambar orang yang kesiangan. Setelah itu muncul emosi.
Kalau emosi yang muncul adalah ia merasa enak kalau tidur sampai siang, maka
kebiasaan ini akan semakin kuat.

0 komentar:
Post a Comment